Piloting Perhitungan Sisa Pangan dan Penyelamatan Pangan di DKI Jakarta
Sisa makanan masih menjadi kontributor terbesar pada komposisi sampah di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). Diperkirakan sekitar 49,87% dari total 3,17 juta ton sampah yang dihasilkan di tahun 2024 merupakan sampah makanan. Kondisi ini selain menjadi beban pengolahan di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, juga memberikan dampak lain dari segi ekonomi serta lingkungan.
Di tingkat nasional, isu pengurangan sampah makanan atau lebih dikenal dengan pengurangan susut dan sisa pangan (SSP) telah menjadi prioritas utama dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Taahun 2024-2029 di bawah Program Ekosistem Ekonomi Sirkular, dengan menargetkan pengurangan 3-5% setiap tahunnya. Namun, pencapaian target ini memerlukan ketersediaan data yang kuat mengenai besaran, sumber, serta alasan penyebab dan pemicu dari timbulan sisa pangan dan sampah makanan di Indonesia. Tanpa data yang memadai, upaya yang akan dilakukan berisiko berjalan tanpa arah dan sulit memetakan titik intervensi yang paling efektif.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Badan Pangan Nasional (BAPANAS) mengajak Garda Pangan untuk melakukan penelitian dengan topik Piloting Perhitungan Sisa Pangan dan Penyelamatan Pangan di DKI Jakarta Tahun 2025. Penelitian ini diharapkan sebagai piloting atau percontohan untuk dapat diterapkan di daerah lainnya di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyediakan kebutuhan data baseline sisa pangan untuk DKI Jakarta serta mengetahui kegiatan penyelamatan pangan yang sudah dilakukan.
Penelitian ini dilakukan pada hotel, ritel, usaha penyediaan dan minuman (food service), dan SPPG MBG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Makan Bergizi Gratis). Empat kategori tersebut dipilih karena memiliki aktivitas pengelolaan pangan dalam skala besar dan berpotensi menghasilkan sisa pangan yang signifikan. Dengan melihat bagaimana sisa pangan dihasilkan dan dikelola pada masing-masing kategori, penelitian ini diharapkan tidak hanya menghasilkan angka besaran timbulan sampah makanan, tetapi juga mampu untuk mendokumentasikan di tahap mana sisa pangan dihasilkan, bagaimana penanganannya, dan sejauh mana potensi makanan masih dapat diselamatkan.
Rangkaian kegiatan penelitian dimulai pada bulan Juli 2025, dimulai dengan rancangan penelitian. Dalam penelitian ini, kami menggunakan metode yang bersumber pada 2 dokumen yaitu: Metode Baku Perhitungan Sisa Pangan pada Ritel dan SNI 3964-2025 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Dalam penelitian ini, melibatkan 81 sampel yang tersebar di 5 Kota Administrasi DKI Jakarta.
Proses Pemilahan dan Perhitungan Sisa Pangan di SPPG DKI Jakarta/Safira Qurrota Ayun
Proses pengambilan data di lapangan dilakukan dalam periode waktu 6 September - 12 Oktober 2025 dengan melibatkan 4 tim yang setiap timnya terdiri dari 1 koordinator dan 2 enumerator. Sebelum pengambilan data dilakukan, Garda Pangan melakukan kegiatan bimbingan teknis yang dihadiri oleh seluruh enumerator dan perwakilan dari BAPANAS. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menyamakan pemahaman mengenai metode, alur pengambilan data, serta teknik pengukuran yang akan digunakan selama penelitian.
Pengambilan data di lapangan diawali dengan perizinan kepada responden, karena penelitian ini bersifat voluntary artinya tidak ada paksaan atau kewajiban calon responden untuk berpartisipasi. Sehingga, tahap perizinan ini juga menjadi kunci awal untuk akhirnya perhitungan dapat dilakukan. Setelah izin didapatkan, kemudian kami bersama responden menentukan hari wawancara dan hari untuk dilakukan perhitungan sisa pangan di lokasi responden.
Setelah selesai melakukan pengambilan data di lapangan, Garda Pangan mulai mengolah dan menganalisis data yang telah dikumpulkan, sekaligus menyusun laporan hasil kajian. Selama proses tersebut, laporan kajian melalui beberapa tahap reviu dan penyempurnaan dengan menerima masukkan dari BAPANAS. Seluruh proses pengolahan data, analisis, dan penulisan berlangsung selama kurang lebih dua bulan, hingga akhirnya hasil kajian dipresentasikan di Gedung Badan Pangan Nasional pada 8 Desember 2025.
Jumlah timbulan sisa pangan dan sampah makanan di 5 kota administrasi DKI Jakarta dari sektor hotel, ritel, usaha penyediaan makanan dan minuman, dan SPPG MBG adalah sekitar 175.415 ton selama tahun 2025. Dengan usaha penyediaan makanan dan minuman sejumlah 81,9%, hotel 8,1%, ritel 6,3%, dan SPPG MBG 3,7%. Kemudian, berdasarkan penanganannya dominan 66,2% berakhir di TPA. Hasil kajian ini sudah dipublikasikan melalui Pustaka Badan Pangan Nasional atau dapat didownload melalui link berikut ini.
