Diseminasi Riset dan Talkshow di Festival Pasar Kreasi Pangan 2026

Admin

29 Apr 2026


Activities
Diseminasi Riset dan Talkshow di Festival Pasar Kreasi Pangan 2026

Image courtesy of Garda Pangan


Pada Rabu, 29 April 2026, Alfian Muhammad Nur, Koordinator Riset Garda Pangan, kembali mendiseminasikan hasil Riset Baseline Perhitungan Sisa Pangan di Labuan Bajo dalam kegiatan Pasar Kreasi Pangan, yang diselenggarakan oleh Prestasi Junior Indonesia (PJI) melalui program Urban Future. Kegiatan ini diisi dengan pemaparan hasil penelitian, sesi tanya jawab, dan talkshow yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, NGO, dan orang muda di Labuan Bajo.

Foto WRI 4.JPG Gambar 1. Diseminasi hasil temuan riset baseline sisa pangan labuan bajo (Credit: Grace Vanessa Lasmana)

Salah satu temuan yang disoroti adalah besarnya kontribusi sektor penghasil sampah selain rumah tangga (51,5%) yang menunjukkan besarnya pengaruh sektor pariwisata dan pasar tradisional (13,8%) terhadap timbulan sisa pangan. Meskipun hanya terdapat dua pasar tradisional utama di Labuan Bajo, tingginya volume pangan yang terbuang menjadikan pasar sebagai sektor penyumbang terbesar kedua, terutama karena bahan pangan yang kebanyakan didatangkan dari luar daerah Labuan Bajo sehingga rentan mengalami kerusakan akibat tantangan cuaca dan infrastruktur distribusi.

Temuan lain yang menarik adalah 58,9% sisa pangan dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan merupakan praktik lokal yang telah lama berkembang di masyarakat. Namun, 25,4% masih berakhir di TPA dan 8,7% dibuang ke laut, termasuk oleh sebagian rumah tangga pesisir dan kapal wisata, sehingga praktik pengelolaan sisa pangan masih membutuhkan perhatian dan perbaikan.

Foto WRI 1.JPG Gambar 2. Sesi talkshow bersama penanggap dari DLH, Disbudpar, Bappeda, dan PHRI Manggarai Barat (Credit: Lidia Prima Sidabutar)

Talkshow yang dimoderatori oleh Uli Pangabean dari WRI Indonesia menghadirkan empat penanggap, yaitu Vinsensius Gande, S.Pd., M.Hum., Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan; Stefanus Jemsifori, STP, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat; Yuyun Felisia, Kabid Perekonomian dan Sosial Bappeda Manggarai Barat; serta Yuvent, perwakilan PHRI dari Ayana Hotel. Para penanggap menanggapi hasil penelitian dengan menyampaikan pandangan mengenai isu sisa pangan di Labuan Bajo, program yang telah berjalan, serta rencana tindak lanjut berdasarkan temuan riset. DLH menekankan pengurangan dari sumber, pemilahan, dan pengolahan mandiri; Bappeda mendorong integrasi isu sisa pangan dalam perencanaan pembangunan; Disbudpar menempatkan pengelolaan sampah sebagai bagian dari pariwisata berkelanjutan; sementara PHRI menyoroti pengurangan sisa pangan sebagai strategi efisiensi bisnis yang perlu didukung SOP, fasilitas, dan insentif.

Antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu sisa pangan dapat menjadi titik temu berbagai pihak untuk berkolaborasi. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah, sekaligus mempertemukan penggiat pengelolaan sampah lokal, mitra dari NGO, pelajar, dan berbagai pihak lainnya yang berpotensi mendorong perubahan. Hasil riset ini diharapkan tidak berhenti sebagai tulisan ilmiah, tetapi menjadi pijakan untuk membangun kebijakan, kolaborasi, dan aksi nyata dalam mencegah dan mengurangi sisa pangan dan sampah makanan di Labuan Bajo.

Untuk membaca hasil penelitian secara lebih lengkap, klik di sini!