Pemutaran & Diskusi Film Dokumenter

Admin

23 Mei 2026


Activities
Pemutaran & Diskusi Film Dokumenter

Image courtesy of Garda Pangan


Garda Pangan telah melakukan kolaborasi dengan Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dalam kegiatan pemutaran film bertajuk, “Besok Kita Nanem Lagi?” yang diselenggarakan di Regent Garden, Pos Bloc, Surabaya, pada Sabtu, 23 Mei 2026. Kegiatan ini diinisiasi oleh CIPS dan berkolaborasi dengan beberapa komunitas maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk melakukan tur pemutaran film. Film ini diputar di 6 kota besar di Indonesia meliputi Semarang, Aceh, Makassar, Sumedang, Surabaya, dan berakhir di Jakarta sebagai puncak acaranya.

Film dokumenter “Besok Kita Nanem Lagi?” menceritakan tentang dua generasi petani, yaitu Sardi (70 tahun) dan Ryan (24 tahun) yang sama-sama beradaptasi di tengah kondisi terjadinya penyempitan lahan, regenerasi yang mandek, krisis iklim, dan kebijakan yang justru menyempitkan ruang gerak petani. Di Surabaya, kegiatan pemutaran film tidak hanya berkutat pada isu yang dihadapi petani, melainkan juga isu-isu terkini yang dihadapi oleh nelayan setempat seperti rencana reklamasi yang mengancam ruang hidup; regenerasi yang mandek; dan pentingnya peran nelayan perempuan. Oleh karena itu, kegiatan pemutaran film ini turut mengundang praktisi langsung, yaitu petani dan nelayan asal Surabaya untuk membagikan pengalaman mereka terkait isu-isu yang melekat di sekitar lingkungan hidup mereka. Kegiatan pemutaran film ini ditujukan untuk mendorong masyarakat umum untuk mendengar, memahami, dan merumuskan solusi bersama terkait permasalahan yang dihadapi oleh petani dan nelayan sebagai aktor yang berperan untuk menjaga ketahanan pangan di Indonesia demi masa depan pangan yang lebih kuat, adil, dan berkelanjutan.

Garda Pangan sebagai kolaborator menggandeng beberapa pihak demi mensukseskan kegiatan pemutaran dan diskusi film “Besok Kita Nanem Lagi?” di Surabaya. Garda Pangan di antaranya mengundang Cahyo Prayogo (Mas Yoyo) yang juga aktif dalam mendukung upaya ketahanan pangan melalui kegiatan urban farming maupun pembuatan film mengenai petani. Mas Yoyo berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan jalannya diskusi antara penonton dengan praktisi yang hadir secara langsung, baik di sektor petani maupun nelayan. Di sektor petani, terdapat Galuh Yunita sebagai praktisi urban farming di Surabaya. Sedangkan di sektor nelayan, terdapat Misbachul Munir sebagai Ketua DPW Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jawa Timur.

Kegiatan pemutaran film di Surabaya mampu menghadirkan 57 penonton yang berasal dari masyarakat sipil, Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Surabaya, dan mahasiswa maupun mahasiswi dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Surabaya. Melalui kegiatan pemutaran film ini juga, Garda Pangan dan CIPS berhasil mengumpulkan sebanyak 47 petisi yang digunakan untuk mendukung kesejahteraan petani dan nelayan.